Tampilkan postingan dengan label Humanis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humanis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Perbedaan Orang Kaya dan Orang Miskin



Orang yang memiliki banyak harta tentu tidak sama dengan orang miskin. Jika Anda ingin kaya pelajarilah hal-hal yang membedakan orang kaya dengan orang miskin

Apa perbedaan orang kaya dan orang miskin?

Salah satu perbedaan orang kaya dan orang miskin selain dari cara mereka mengatur uang (cashflow). Ada satu yang namanya gelombang. Ternyata antara orang kaya dengan orang miskin mempunyai gelombang yang berbeda.

Misalnya orang kaya itu memiliki gelombang diatas rata-rata dari gelombang orang miskin. Walaupun gelombangnya naik dan turun. Namun walaupun gelombangnya sedang turun, orang kaya mampu membalikan gelombangnya ke posisi normalnya, karena mempunyai cashflow atau cadangan yang bisa mendongkrak ketika sedang turun.


Lalu sekarang, kita akan belajar bagaimana cara kita merubah gelombang kita seperti gelombang orang kaya tersebut.

  1. Belajar
    Anda bisa belajar ilmu-ilmu dari orang lain. Karena pada dasarnya ilmu adalah pikiran, dan pikiran adalah gelombang. Sehingga dengan belajar dengan orang yang gelombangnya tinggi, maka gelombang kita akan meyesuaikan untuk menjadi lebih tinggi
  2. Bergaullah
    Ada istilah namanya aura, ketika Anda sedang bergaul dengan orang yang lebih dahsyat, maka secara ticak langsung Anda akan merasakan auranya. Karena pada dasarnya aura adalah gelombang, sehingga gelombang Anda akan menyesuaikan diri dengan gelombangnya.
Nah, sekarang Anda mulai belajar dan bergaul dengan orang lain yang menurut Anda ahli dibidangnya. Namun setelah gelombang Anda sudah sama dengan orang kaya, Anda perkuat frekuensi gelombang Anda, dengan cara terus belajar, dan terus inovasi untuk diri Anda. 

Sumber : http://www.tdwclub.com

Selasa, 24 Januari 2012

Motivasi

Orang miskin, menghabiskan uang yang didapat, kalau ada sisa baru ditabung.
Orang KAYA, Menabung dulu, sisanya baru  dihabiskan. Ayo ikut Pola orang KAYA!

Sumber : Tung Desem Waringin

Senin, 09 Januari 2012

Bagaimana Para Ulama Mendidik Anak-Anaknya

1. Mewariskan Harta dan Buku, untuk Pendidikan Anak
Sebagaimana dikatakan oleh Imam As Syafi’i, bahwa ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan 6 perkara, salah satunya adalah harta atau materi. Oleh karena itu, para ulama tidak tanggung-tanggung merogoh kocek, guna kelangsungan pendidikan anak-anak mereka.
Siapa yang tidak mengenal Imam As Suyuthi (991 H),seorang ulama besar yang memiliki lebih dari 600 karya. Menguasai berbagai macam disiplin keilmuan dalam Islam, hafal lebih dari 200 ribu hadits. Bahkan ia mengakui bahwa parangkat ijtihad sudah ia miliki. Dan waktu berumur 21 sudah menghasilkan karya. Salah satu karya yang amat populer bagi masyarakat muslim Indonesia adalah Tafsir al Jalalain

Kehebatan beliau tidak lepas dari pendidikan dan jerih payah ayahnya dalam mempersiapkan pendidikannya. Ayahnya telah mempersiapkan sebuah perpustakaan yang langkap dengan berbagai macam kitab, sebelum As Suyuthi lahir, sehingga ulama Syafi’iyah ini dijuluki sebagai Ibnu Al Kutub (anak buku), karena beliau terlahir di sela-sela tumpukan buku. Maka tidaklah heran, jika semasa mudah As Suyuthi sudah menguasai banyak rujukan.

 Ibnu Al Jauzi (510 H), seorang ulama ternama dalam madzhab Hambali juga banyak mendapatkan warisan dari sang ayah, guna menopang pendidikannya. Hal ini terungkap, tatkala ia memberi nasehat kepada anak-anaknya, agar senantiasa bersabar dalam mencari ilmu, dan senantiasa menjaga kehormatan diri. Beliau menulis dalam Laftah Al Kabid, fi Nashihati Al Walad, tentang nasehatnya kepada anaknya, sewaktu mereka masih kecil:”Ketahuilah wahai anakku, bahwa ayahku adalah seorang yang kaya, dan telah meninggalkan ribuan harta. Ketika aku baligh, ia memberiku 20 dinar dan 2 rumah. Lalu aku mengambi dinar untuk kubelanjakan buku, lalu aku jual rumah dan aku gunakan uangnya unyuk mencari ilmu, hingga harta itu habis tidak tersisa. Ayahmu tidak terhina dikarenakan mencari ilmu, sehingga berkeliling ke negeri-negeri untuk mencari belas kasih orang lain. Aku merasa kecukupan, Allah berfirman: ”Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan member rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”.
Lalu beliau mengatakan, ”Maka, bersungguh-sungguhlah wahai anakku untuk tetap menjaga kehormatanmu, hingga tidak mencari-cari dunia yang akan menghinakan pemiliknya. Ada yang mengatakan bahwa, barang siapa qona’ah terhadap roti, maka ia tidak akan menjadi hamba bagi manusia”.

Ibnu Al Jauzi berani menempuh kesusahan di saat beliau mencari ilmu, antara lain kesusahan dalam rezeki, akan tetapi beliau tetap bersabar. Hingga ketika ilmu yang beliau peroleh sudah amat banyak, maka rezekilah yang mendatanginya (Lihat biografi beliau dalam Tadzkirah Huffadz, Imam ad Dzahabi, 4/1347).

Yahya bin Ma’in (233 H) juga tidak kalah hebatnya, guru Imam Bukhari ini mendapatkan warisan dari ayahnya sebesar 1 juta dirham dan 50 ribu dinar. Semua itu dihabiskan Yahya untuk mencari hadits, sehingga sandalpun ia tidak memilikinya. Dari harta itu, Yahya memiliki 114 rak yang penuh buku (lihat, Tahdzib At Tahdzib, Al Atsqalani, 11/282).

Begitu juga Imam As Syaibani Al Kufi (189 H), salah satu murid Imam Abi Hanifah, beliau pernah mengatakan:”Ayahku mewariskan kepadaku 30 ribu dirham. Aku gunakana 15 ribu untuk ilmu nahwu dan syair, dan sisanya untuk hadits dan fiqih (lihat, Tarikh Al Bagdad, Khotib, 2/173)

Begitu pula yang dialami Hisham bin Ammar At Tsulami (245 H), guru dari Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan yang lain. Ayahnya relah menjual rumah mereka seharga 20 dinar, untuk ongkos ke Madinah, dalam rangka mendengar hadits dari Imam Malik (lihat, Tahdzib Al Kamal, Al Mizzi, 3/1144)

Tidak jauh beda dengan pengorbanan orang tua dari Ali Bin Ashim Al Wasithi (201 H), salah seorang Hafidz Bagdad, yang juga menjadi syeikh Imam Ahmad dan Yahya Ad Duhli (guru Imam Al Bukhari). Dimana suatu saat, ayahnya mengatakan kepadanya,”Telah aku berikan uang sebesar 100 ribu dinar, dan aku tidak mau melihat wajahmu, kecuali setelah kamu mendapatkan 100 ribu hadits!” (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, Ad Dzahabi, 1/317).

Tidak jauh bereda antara ulama klasik dan ulama kontemporer, Syeikh Badru Al Alim, Muhadits India, yang ikut memberi ta’liq (komentar) kepada Fathu Al Bari, syarah (penjelasan) dari Shohih Al Bukhari, yang ditulis oleh Al Muhadits Anwar Syah Al Kashmiri, juga mempersiapkan pendidikan anak-anaknya dengan baik. Saat awal-awal ia bermukim di Madinah, beliau membeli kitab Al Ajwibah Al Fadhilah, yang ditulis oleh Imam Laknawi, padahal usia beliau sudah tua, dan tidak mampu lagi membaca.

Akhirnya beliau menyatakan kepada Syeikh Abu Ghuddah, muridnya, ”Kamu tahu bahwa aku tidak mampu lagi membacanya, akan tetapi, aku membelinya untuk kuwariskan kepada keluarga dan anak-anakku, itu lebih baik bagi mereka daripada warisan yang berupa harta”. (Lihat, Shofhat min Shabri Al Ulama, 300)


2. Memilih Rezeki Halal, untuk Pendidikan Anak
Para ulama tidak hanya mewariskan harta untuk pendidikan anak-anak mereka, akan mereka juga menjaga agar harta yang diberikan kepada anak-anak mereka adalah harta yang bersih syubhat dan halal. Karena, bersih tidaknya harta juga mempengaruhi bersih tidaknya ilmu yang diperoleh.

Adalah Kamal Al Ambari (513 H), penulis Nuzhah Al Auliya, yang juga seorang ulama nahwu, yang memiliki harta pas-pasan. Mendapat rumah dari warisan ayahnya, dan hanya mengandalkan sewa kedai, yang dalam sebulan cuma menghasilkan setengah dinar.

Suatu saat khalifah Al Mustadhi’ mengirimkan utusan kepadanya, dengan membawa uang 500 dinar, untuk diberikan kepadanya. Akan tetapi Al Ambari menolak. Akan tetapi utusan tersebut mengatakan, ”Kalau engkau tidak mau, berikanlah harta ini kepada anakmu”. Al Ambari menjawab,”Jika aku yang menciptakannya, maka akulah yang memberinya rezeki”
Perkataan Al Ambari menunjukkan bahwa Allah telah mengatur rizki anaknya, hingga ia tidak perlu menerima memberikan hadiyah itu kepada anaknya, yang mana ia sendiri enggan menerima harta pemberian penguasai, karena wara’ (hati-hati).


3. Ulama: Guru dan Sahabat Anaknya dalam Mencari Ilmu
Hal yang tidak bisa ditinggalkan dalam mendidik adalah keteladanan. Jika orang tua menginginkan anaknya mencintai ilmu, maka ia sendiri juga harus mencintai ilmu, hingga bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Para ulama sendiri mengajak anak-anaknya untuk bersama-sama melakukan perjalanan dan belajar dengan para ulama lain. Semisal Asad bin Al Furat (213 H), seorang murid Imam Malik, yang sudah diajak ayahnya “menjelajah” sejak ia berumur 2 tahun, untuk mencari ilmu, bersama-sama dengan pasukan Arab, menuju Qairawan, Tunis, dan belajar Al Qur’an di negeri itu, lalu meriwayatkan Al Muwatha’ dari Ibnu Ziyad. (lihat, Syajarah An Nura Az Zakiyah, 62).
Begitu pula Imam As Suyuthi (991 H), sejak berumur 3 tahun sudah dibawah ayahnya menghadiri majelis Ibnu Hajar Al Atsqalani. Wafatnya sang ayah tidak bererti pendidikan si anak harus dilalaikan. Ayah Suyuthi sebelum wafat sudah berwashiyat kepada Kamaluddin bin Hammam, ulama masa itu untuk mendidik As Suyuthi.

Hal yang sama dilakukan oleh ayah dari Ibnu Mulaqqin, guru dari Ibnu Hajar Al Atsqalani dari Mesir. Sebelum menjadi yatim, ayahnya telah menitipkan pendidikannya kepada seoarang ulam yang bernama Syeikh Isa Al Maghribi, seorang yang biasa mentalqin (membacakan) Al Qur’an, kepada para penuntut ilmu, hingga ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Mulaqqin (anak pentalqin). Beliau adalah ulama yang paling banyak karyanya di zaman itu.

Imam Sam’ani (562 H), sejak berumur 4 tahun, ayahnya, Imam Abu Bakar menghadirkannya ke beberapa ulama, seperti Ali Abdu Al Ghaffar As Sairazi, Abu ‘Ala Al Qushairi, dan beberapa ulama. Lalu saat ia berumur 9 tahun, ayahnya membawanya ke Naisabur. Tidak hanya itu, setelah ia pulang ke Marwa pada umur 38 dan menikah, anaknya yang bernama Abu Mudhafar yang masih berumur 3 tahun pun ia bawa bersamanya kembali ke Naisabur dalam rangka berguru kepada beberapa ulama di sana. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah, As Subki, 7/180).

Imam Abu Al Waqt As Sijzi (553 H), yang disebut Imam Ad Dzahabi sebagai Syeikh Al Islam, yang juga merupakan guru Ibnu Al jauzi, sudah melakukan perjalanan mencari ilmu sejak umur 7 tahun. Ia memiliki kisah yang amat dahsyat, tatkala melakukan perjalanan mencari ilmu bersama ayahnya.

Suatu saat ia bertutur kepada salah satu muridnya Yusuf bin Ahmad As Syairazi: ”Wahai anakku, aku telah melakukan perjalanan untuk menyimak As Shahih dengan berjalan bersama ayahku, dari Harat menuju Dawudi. Umurku belum ada 10 tahun. Saat melakukan perjalanan, ayahku memberiku dua batu, jika aku terlihat lelah, maka ia menyuruhku untuk melempar satu batu, lalu aku melanjutkan perjalanan. Kadang ia bertanya,”engkau sudah lelah?”, maka aku menjawab,”belum”. “Kenapa jalanmu lamban?”. Maka aku cepatkan langkahku, hingga aku tidak mempu lagi, lalu ia menggendongku”.

Suatu saat mereka berpapasan dengan rombongan petani. Dan mereka menyeru kepada ayah As Sijzi, wahai Syeikh Isa, biarkan anak ini naik kendaraan bersama kami, kita bersama-sama menuju Bushanj. Maka ayahnya mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah, dari naik kendaraan ketika mencari hadits, akan tetapi kami memilih jalan”.
Ketika bertemu dengan Abdul Baqi Al Harawi, ia menawariku manisan, aku menjawab,”Wahai tuan, saya lebih mencintai satu juz dari Abu Jahm lebih baik daripada makan manisan”. Ia tersenyum dan mengatakan,”jika yang masuk makanan, yang keluar adalah omongan”.
Lihat, bagaimana ayah As Sijzi dalam mendidik anaknya, hingga anak yang masih kecil itu sudah memiliki kecintaan yang tinggi terhadap hadits. Dan bagaimana ayah As Sijzi, mengajari anaknya menjaga azzam, guna melawan rasa lelah selama melakukan perjalanan. dengan menggunakan sarana batu.

Begitu pula banyak para ulama, disamping menjadi ayah, juga menjadi guru bagi anak-anaknya, semisal Kamal Al Ambari (077 H) memperolah hadits dari ayahnya, Tajuddin As Subki (771 H), mengambil ilmu dari ayahnya, Taqiyuddin As Subki. Bagitu pula Abu Zur’ah Al Iraqi mendapatkan ilmu dari ayahnya Hafidz Al Iraqi, hingga ia meneruskan syarah Tharhu At Tasrib yang telah disyarah Hafidz Al Iraqi sebelum wafat. Juga amat banyak periwayat hadits yang mengambil dari ayah, kakek dan seterusnya.

Begitu juga Imam As Syaukani penulis Nail Al Authar, telah membaca kitab Al Azhar, fiqih madzhab Zaidiyah dari ayahnya. Ada kisah menarik dalam hal ini, yang mencerminkan kekritisan Imam As Syaukani. Di sela-sela proses belajar dengan ayahnya, ia bertanya: “Ayah mengatakan, ini madzhab Hanafi, ini madzhab Fulani, mana yang benar dari pendapat-pendapat ini?” Ayahnya menjawab: “yang benar adalah pendapat yang dirajihkan Imam Al Hadi”. Imam As Syaukani pun menanggapi: ”Tidak mungkin ijtihad Imam Al Hadi benar semua, pasti ada yang salah. Maka, bagaimana kita tahu pendapat itu benar?” Akhirnya ayah Syaukani membawanya berguru kepada beberapa ulama di Yaman.


4. Selalu memantau hasil belajar anak
Tidak hanya mengajar atau memilih guru yang baik. Akan tetapi para ulama juga memantau hasil belajar si anak. Simak penuturan Tajuddin As Subki (771H): ”Aku jika datang dari seoarang syeikh, maka ayahku (Taqiyuddin As Subki) berkata kepadaku,”tunjukkan apa yang telah kamu peroleh, yang kamu baca dan yang kamu dengar”. Maka, aku menerangkan tentang hal-hal yang telah kuperoleh dalam majelis. Jika aku pulang dari Ad Dzahabi, ia berkata,”tunjukkan yang telah engkau dapat dari syeikhmu”. Jika aku pulang dari Syeikh Najmuddin Al Qahfazi, ia mengatakan,”yang kau dapat dari masjid Thingkiz”. Jika aku pulang dari Syeikh Syamsuddin Ibnu Naqib, maka ia mengatakan,”yang kamu dapati dari Syamiyah”. Jika aku pulang dari Syeikh Abu Abbas Al Andarsy, ia mengatakan, ”yang kau dapati dari masjid”. Jika aku pulang dari Hafidz Al Mizzi, ia mengatakan,”yang kamu peroleh dari As Syeikh”. Ia melafadzkan kata As Syeikh dengan fashih, dan meninggikan suaranya. Aku mengerti, bahwa itu bertujuan agar aku juga ikut merasakan kebesaran nama Al Mizzi, hingga aku lebih banyak mendatangi majelisnya”. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah, As Subki, 10/399).

Hasilnya, tidak diragukan lagi. Tajuddin As Subki menjadi ulama yang cukup diperhitungkan, khususnya di kalangan muhaditsin dan madzhab As Syafi’i. Sehingga Al Mizzi menginginkan murid-muridnya mencatat As Subki dalam kelompok ulama thabaqat ulya (tingkatan tertinggi), begitu juga Imam Ad Dzahabi, menginginkan hal yang sama, walau usia As Subki masih relatif muda, Ad Dzahabi menilainya sebagai muhadits jayyid (baik). Akan tetapi orang tuanya, Taqiyuddin memprotes, cukup thabaqat pemula. Akan tetapi para gurunya juga tidak terima. Akhirnya As Subki dimasukkan thabaqat wustha (tingkatan pertengahan).

Secara tidak langsung, Taqiyuddin mengajari anaknya, Tajuddin, agar senantiasa rendah hati, walau ilmunya sudah hampir setara dengan para gurunya.

Dikutip dari : http://jampasir.wordpress.com

Kamis, 05 Januari 2012

Menyembuhkan jiwa-jiwa yang lelah

Jiwa manusia yang suci akan selalu menjadi lentera bagi pemiliknya, akan bisa menunjukkan arah yang benar sesuai dengan fitrahnya, namun tidak selamanya jiwa itu pada porosnya yang baik, adakalanya jiwa itu merasa lelah.

Dalam buku yang ditulis oleh Ibn al Jauzy disebutkan obat untuk jiwa-jiwa yang lelah maupun jiwa yang sakit untuk menjadi segar kembali, menjadi sehat agar dapat selalu tunduk dan patuh pada Robb nya. Disini akan saya sebutkan poin poin yang dapat menyembuhkan jiwa-jiwa yang lelah di antaranya adalah : 
  1. Menghindari cinta birahi yang berlebihan. 
  2. Menghindari ketamakan, baik itu ketamakan dalam seks maupun ketamakan dalam menumpuk harta kekayaan. 
  3. Mewaspadai jabatan kekuasaan, jangan pernah untuk meminta jabatan kerena Rasululloh tidak memberikan jabatan kepada Sahabatnya yang meminta.
  4. Menghindari sifat bakhil(pelit). 
  5. Larangan untuk bersifat boros, karena sifat boros adalah saudara setan sementara setan tempatnya di neraka. 
  6. Celaan terhadap sikap sombong, jangan pernah bersikap sombong karena sombong adalah cikal bakal sekala bentuk kemungkaran, dan menjadi sebab di keluarkannya setan dari surga dan kekal di neraka.
  7. Menghindari sifat dengki. 
  8. Menghindari sifat dendam, meredam kemarahan, bila ini terjadi maka ia akan rental dalam penganiayaan dan pembunuhan.
  9. Menghindari sifat takabur, ujub(berbangga diri), Riya’. 
  10. Menghindari berfikir yang berlebihan dan kesedihan yang berlebihan.
  11. Menghindari ketakutan dari kewaspadaan terhadap kematian yang berlebihan. 
  12. Menghindari kegembiraan yang berlebihan.
  13. Menghindari sifat kemalasan, karena sifat malas adalah racun kegala kebaikan. Obat agar tidak malas adalah mengobarkan semangat dengan perasaan takut ketinggalan sesuatu yang dicita-citakan, jangan menunda waktu segera lakukan dengan sungguh sungguh. 
  14. Mengenali kekurangan diri, agar lebih mudah untuk membangkitkan motivasi kembali. 
  15. Berkumpul dengan orang orang yang baik, semangat dalam menjalani hidup, beriman dan bertakwa, agar pada saat jiwa kita lelah ada yang menasehati.
 


Rabu, 04 Januari 2012

Menggapai Harapan pada Tahun Baru

Selama menjalani 2011, tentu banyak hal dialami. Kejadian yang baik tentunya patut disyukuri, sementara yang buruk tak perlu disesali. Yang terpenting, Anda menyiapkan strategi baru agar di tahun mendatang hal yang sama tak perlu terulang.

Perbanyak doa agar keberkahan yang ada senantiasa bertambah. Wendy Enelow, konsultan karier dari
Virginia, AS, menyatakan Tahun Baru adalah momen yang baik untuk introspeksi diri. Tanyakan pada diri sendiri apakah Anda bahagia dalam menjalani hidup dan pekerjaan. Berikut cara termudah untuk "berkomunikasi" dengan diri sendiri.

1. Tinjau Ulang Karier
Anda Dalam bekerja, apa yang Anda kejar? Uang yang banyak atau kebahagiaan batin dalam melakukan pekerjaan? Atau mungkin ada posisi impian tertentu yang ingin dicapai. Pelajari setiap kemungkinan dan upayakan yang terbaik guna mencapainya. Jika tujuan karier Anda sudah jelas, upaya menggapainya semakin mudah.

2. Melihat Peluang Lain
Tanya pada diri sendiri apakah Anda sudah puas dengan hasil kerja sekarang. Buatlah skala prioritas apakah bekerja memang hal utama. Atau Anda lebih membutuhkan waktu lebih bersama keluarga dan teman? Jika ya, namun tempat kerja seolah-olah tak memberikan waktu, pikir kembali apakah Anda akan tetap bekerja di sana. Atau ini saat yang tepat mulai melirik bidang pekerjaan lain.

3. Memperluas Jaringan
Dengan menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak, tahun baru bisa membawa kesuksesan baru. Banyak orang di dunia ini sukses bukan karena memiliki otak cerdas, namun karena berhasil menjalin (banyak) hubungan baik dengan sesama manusia


Dikutip dari : http://koran-jakarta.com

Senin, 19 Desember 2011

Istighfar dan Kelapangan Rezeki


Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar; dan untuk setiap kesempitannya kelapangan; dan Allah memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangkanya" (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

  
Penjelasan :

Istighfar adalah kata kunci dalam hadis ini. Dari istighfar ini kemudian muncul berbagai kemudahan dari Allah SWT kepada orang yang melakukannya. Istighfar, secara bahasa, berasal dari kata ghafara yang artinya "menutup". Dalam bahasa Arab, benda yang dipergunakan untuk menutup kepala disebut mughfar. Bila kata ini diawali dengan huruf alif, sin, dan ta' maknanya menjadi meminta atau mengusahakan agar mendapatkan ghafr. Dengan demikian, istighfar berarti meminta kepada Allah agar kita ditutupi dari hal-hal yang menyakitkan atau ditutupi dari akibat dosa yang pernah kita lakukan.

Definisi ini sesuai dengan yang diungkapkan Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, bahwa istighfar adalah memohon kepada Allah agar kita dilindungi dari keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya. Dalam QS Al Anfal ayat 33 disebutkan, "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alllah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun (beristighfar)".

Dari pemaknaan tersebut terlihat bahwa salah satu "fungsi" istighfar adalah "meredam" murka Allah dan menghindarkan kita dari akibat dosa yang pernah kita lakukan. Yang tak kalah penting, istighfar pun dapat mendatangkan cinta dan kasih sayang Allah seperti yang terungkap dalam hadis di atas.

 http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2008/07/doa-sayyidul-istighfar-desktop.jpg

Ada tiga kemudahan yang Allah berikan pada orang yang selalu beristigfar, tentu dengan sebenar-benarnya istighfar. Pertama, Allah akan memberinya "hiburan" tatkala ia bersedih atau dalam kesusahan. Sesulit apapun masalah, Allah SWT akan selalu membukakan pintu-pintu solusi bagi para ahli istighfar. Kedua, Allah memberikan kelapangan di balik kesempitan. Dalam QS Alam Nasyrah ayat 5-6, Allah SWT mengulang hal ini sampai dua kali. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan". Ayat ini ditujukan bagi Rasulullah SAW tatkala jiwa beliau sedang mengalami tekanan yang sangat berat. Dan kita tahu, Rasul adalah orang yang paling sempurna istighfarnya.

Ketiga, istighfar dapat mendatangkan rezeki. Antara istighfar dengan rezeki sangat erat kaitannya. Boleh jadi keduanya adalah sebab dan akibat. Allah SWT berfirman, "Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).

Syeikh Muhammad Asy Syinqithi mengomentarinya: "Ayat yang mulia itu menunjukkan bahwa istighfar dan taubat adalah sebab, sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang banyak pada mereka yang melakukannya sampai waktu yang telah ditentukan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang ditentukan".

Karena istighfar dapat mendatangkan rezeki, tak heran bila Imam Hasan Al Bashri selalu menganjurkan beristighfar pada orang-orang yang mengadu kepadanya tentang kemiskinan, kegagalan panen, kekeringan, tidak punya keturunan, dan berbagai kesusahan lainnya. Wallahu a'lam bish-shawab. (ems)

Sabtu, 17 Desember 2011

Bisakah Tetap Berteman Dengan Mantan Kekasih ?

Ungkapan “kita tetap bisa berteman” sering terlontar ketika hubungan berakhir. Tetapi bisakah Anda dan mantan kekasih tetap menjalin pertemanan setelah hubungan beakhir?

Faktanya, berteman dengan mantan kekasih sangat sulit dilakukan. Perasaan cemburu ketika ia bersama dengan orang lain bisa saja muncul. Hal ini bisa saja membuat sakit hati, meskipun Anda mengatakan “baik-baik saja”. Untuk itu ketahui lima alasan sulit berteman dengan mantan kekasih, yang dikutip dari Stylecaster.

Quote:1. Risiko jatuh cinta lagi
 
Hanya karena Anda dan mantan tidak lagi menjalin hubungan, bukan berarti gejolak perasaan otomatis hilang. Seringnya bertemu dan berbicara , bukan tidak mungkin Anda kembali menjalin hubungan dengannya. Jadi, jika Anda bertekad untuk melepaskan diri darinya, jangan menjalin pertemanan.

Quote:2. Lebih sulit menemukan pasangan baru
 
Teman artinya bisa dihubungi untuk diajak berbicara atau menemani. Akan sangat aneh jika Anda dan mantan kekasih tetap saling menghubungi dan menemani. Hal ini hanya akan membuat Anda ‘tidak bergerak’. Tentunya makin sulit membuka hati demi mencari kekasih baru.

Quote:3. Cemburu
 
Anda bisa saja mengatakan kalau perasaan sudah menetral. Atau, sudah tidak memiliki perasaan suka pada mantan. Tetapi tetap saja, hati tidak bisa dibohongi. Rasa cemburu bisa saja muncul saat mantan memiliki kekasih baru, sementara Anda masih melajang.

Quote:4. Tanpa komitmen
 
Jika setelah putus, Anda tetap bertemu dan berbicara dengan si dia, sama saja tidak ada berubah. Hubungan tetap berjalan namun tanpa komitmen dan ini bisa malah makin menyakitkan. Ingatlah, hubungan emosional tidak akan putus, jika Anda masih berinteraksi pada tingkat emosi.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM84GgEoVsUsIxs_otp-_QmK48AspBJWQHa6LLV8OBaqgIYqsGMYqEDC5JHw08ohxWk8eiBMTCo1wn0BvWmKXcljr3NkaISuMg1_8K3c2rHrDFDrM2-rHID4svapw4dVNbSzGQ7mWEafk/s1600/Puisi-Cinta-Mantan-Kekasih-KoleksiAnekaPuisi.jpg

Stockholm syndrom

Seusai jam kerja, Mely selalu membelikan makan malam untuk pacarnya, Dodi, yang telah menunggunya di kosan. Hal ini hampir setiap hari dilakukannya, kecuali bila ternyata Mely harus lembur di kantor atau bila kebetulan dia bisa pulang cepat untuk memasak. Malam ini, Mely membelikan ayam gulai di rumah makan Padang kesukaan Dodi.

“Say, ini nasi Padangnya.. buruan makan loh sebelum dingin,” kata Mely setiba di kosan, sambil membukakan bungkusan nasi tersebut dan menaruhnya pada sebuah piring bersih. Tidak lupa juga dia menyediakan sendok garpu untuk Dodi yang sedang sibuk browsing internet. Ditaruhnya makanan tersebut di samping laptop.

“Aku mandi dulu yah..”, Mely memberi tahu. Dodi tetap diam, hanya tangannya yang maju mengambil sekeping kerupuk udang dari atas piring sambil matanya terus fokus pada layar monitor. Sibuk klik ini dan itu.

Keluar dari kamar mandi mengenakan kaos dan celana pendek dengan handuk tergantung di lehernya, Mely kaget melihat Dodi sedang memegang Blackberry miliknya dan memeriksa isinya. Meskipun sering kali Dodi melakukan hal itu, namun selalu ada rasa was-was di hati Mely.

“Siapa Rico?”, tanya Dodi tajam sambil memperlihatkan layar Blackberry Messenger yang penuh dengan chat antara Mely dengan seorang pria bernama Rico.

Deg! Hati Mely berdegup kencang…

Rico adalah supervisornya di kantor dan sepertinya Rico sangat tertarik pada dirinya, tapi Mely sama sekali tidak punya perasaan apapun selain sebagai kolega saja. Isi chat-nya pun hanya obrolan biasa saja.

Tapi Rico bukanlah masalah. Yang jadi masalah adalah Dodi…

Melihat ekspresi Mely yang kaget, Dodi langsung naik pitam. Serta merta ia bangkit berdiri, membentak keras dan mulai marah-marah. Menuduh Mely selingkuh dan tidak setia. Menuduh Mely sudah bosan dengannya. Mely berusaha menjelaskan dan memohon supaya Dodi jangan marah, tapi Dodi tidak bisa diberi penjelasan. Mely juga sudah tahu hal ini. Setiap kali ia marah, urusan pasti jadi panjang.

Melihat Mely yang panik, Dodi semakin menjadi-jadi. Ia mendorong Mely dengan kasar dan mencaci-maki dengan kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan oleh siapapun. Mulai dari nama-nama binatang, hingga pelacur dan perek murahan.

Setiap kali pertengkaran mencapai titik ini, Mely hanya bisa meringkuk dan menangis di lantai. Belum puas dengan itu semua, Dodi menepis piring berisi nasi Padang yang dibelikan Mely untuknya. Pecahan piring dan nasi Padang berserakan di lantai.

“Kalo lo emang dah bosen sama gue, bilang aja.. jangan pake maen di belakang! Dasar perek!”, Dodi membentak sekali lagi sambil melempar Blackberry Mely ke lantai yang langsung tercerai berai. Ia pergi meninggalkan Mely yang tersedu-sedu pilu.
 
Hatinya hancur berantakan seperti serpihan piring beling yang berserakan di lantai..

Keesokan harinya, sepulang jam kerja Dodi sudah menunggu di depan kantor Mely. Ia datang untuk menjemput. Dodi memohon, mengemis, dan menangis, agar Mely mau memaafkannya. Dodi sangat menyesal atas perlakuannya pada Mely. Ia berjanji takkan pernah mengulangi lagi.

“Aku cinta kamu.. aku butuh kamu. Kalau kamu gak mau maafin aku, lebih baik aku bunuh diri..”, Dodi memelas sambil berurai air mata. Dan seperti biasa, Mely pun memaafkannya. Mereka pulang bersama ke kosan Mely.

Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi dalam hubungan Mely dan Dodi. Mereka telah menjalin hubungan lebih dari setahun. Awalnya Dodi sangat baik, lucu, dan menyenangkan. Tapi lama kelamaan, Dodi menjadi semakin posesif. Ia memegang semua akses password email, Facebook, dan YM kepunyaan Mely. Belum lagi kebiasaannya mengecek handphone Mely.

Dodi semakin lama semakin gampang kehilangan kesabaran dan cemburu buta. Pernah satu kali Dodi marah besar dan menampar Mely karena menerima telpon dari seorang teman pria.

Tapi Mely tidak bisa meninggalkannya. Karena Dodi membutuhkannya. Ia tidak bisa hidup tanpa Mely. Semakin Mely merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan Dodi, semakin dia merasa yakin bahwa dia sangat mencintai Dodi.

Sebuah siklus yang mengerikan…

 
Di atas adalah contoh kasus dari sebuah fenomena yang disebut dengan Stockholm Syndrome. Kasusnya mungkin berbeda, tapi saya yakin Anda pernah mendengar kisa serupa dari sahabat Anda, gebetan Anda, atau mungkin Anda sendiri pernah mengalaminya. Tidak selalu wanita yang menjadi korban, ada begitu banyak pria juga yang berada dalam posisi seperti Mely.

Stockholm Syndrome adalah sebuah fenomena psikologis paradoks di mana seorang tawanan/sandera menunjukkan perasaan sayang dan keterikatan emosional pada orang yang menawan dan menganiayanya, biasanya disebabkan karena rasa ketidak berdayaan atas situasi yang dirasakan oleh sang korban.

Istilah Stockholm Syndrome mengacu pada sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Pada waktu itu, sekelompok perampok bank menyandera para pegawai bank selama 5 hari penuh. Selama 5 hari tersebut, para sandera jadi memiliki ikatan emosional dengan para penyadera mereka. Ketika para tawanan ini akhirnya dibebaskan, mereka bahkan membela para kriminal yang telah menyiksa mereka.

Fenomena psikologis ini dapat ditemukan juga dalam hubungan sosial seperti: keluarga, percintaan, persahabatan, ataupun hubungan antar individu lainnya. Dan dewasa ini, sudah sangat umum terjadi di sekitar kita.

Begitu banyak pasangan yang saya kenal langsung maupun tidak langsung, terikat belenggu Stockholm Syndrome dalam hubungannya. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat mengerikan dan menyedihkan. Bukan saja siklus tersebut akan menghancurkan dan merusak diri kedua belah pihak, tapi juga bisa melukai orang lain di sekitar mereka.

Pembentukan Stockholm Syndrome bisa dilihat dari beberapa penyebab:

Adanya sebuah ancaman dan kekerasan. Tidak selalu kekerasan fisik, bisa juga penyiksaan mental, maupun emosional lewat kata-kata verbal. Biasanya sang penganiaya menjatuhkan rasa percaya diri korban dengan makian dan hinaan. Terkadang melibatkan hidup dan matinya seseorang. Seperti Dodi yang mengancam ingin bunuh diri.

Isolasi dan blokir secara fisik, mental, maupun emosional. Alienasi dapat dilihat dari pasangan yang sangat posesif sehingga korban tidak boleh berteman dengan orang lain sama sekali, dan semua akses informasi dipegang oleh sang penganiaya (email, facebook, YM, handphone, dsb).

Adanya sebentuk kebaikan dan kasih sayang yang ditunjukkan sesekali oleh sang penganiaya. Karena telah terbiasa dengan penyiksaan dan rasa sakit, sang korban jadi kecanduan dan menunggu-nunggu kapan kebaikan tersebut akan muncul. Kebaikan sang penganiaya menjadi sebuah hal yang sangat berharga baginya.

Sang korban menganggap diri tidak berdaya dan merasa tidak mungkin bisa keluar dari keadaan ini. Akibatnya dia jadi menutup diri dan pasrah dengan keadaan. Tidak pernah berani untuk mengambil keputusan tegas dan hanya berharap sebuah keajaiban yang akan merubah keadaan.

Akibat tidak bisa bercerita pada siapapun, karena malu, dan akses sosial yang dibatasi, maka sang korban jadi menutup diri dari orang lain. Malahan dia akan menentang orang-orang yang mencoba menolongnya keluar dari keadaan ini. Dia merasa tidak ada orang yang bisa mengerti keadaan dan perasaannya.

Ini akan berakibat fatal. Karena lambat laun, sang korban akan menerima keadaan ini sebagai kenyataan hidupnya dan merasa bahwa hanya sang penganiaya lah yang mengenal dan mengerti dirinya. Dan itu yang menciptakan ketergantungan emosional yang dalam. Sang korban menganggap hal ini adalah cinta.

Ketika hubungan sudah terjalin lama, akan makin sulit untuk melepaskan diri. Investasi emosi, tenaga, dan finansial, membuat sang korban tidak ingin meninggalkan hubungan ini. Dia harus bertahan hingga akhir. Semua demi nama cinta.

Sepanjang pengalaman saya, sangat sulit untuk menyadarkan dan menolong orang yang telah terjebak dalam siklus mengerikan ini. Korban biasanya berhasil melepaskan diri dari cengkraman Stockholm Syndrome ketika penganiayaan telah melewati ambang batas tertentu dan mengancam kelangsungan hidupnya, menyadarkan mereka akan realita hubungan yang destruktif ini.

Mereka berhasil lepas dengan membawa luka dan trauma yang membekas begitu dalam di jiwanya. Membuat mereka menjadi paranoid, penuh ketakutan, dan ketidak stabilan emosional. Sulit bagi mereka untuk bisa kembali merasakan kebahagiaan layaknya manusia normal. Kalau sudah begini, mereka akhirnya jadi cenderung melukai orang-orang yang mencintai mereka dengan tulus.

Stockholm Syndrome adalah sebuah realita yang banyak terjadi di dunia sekitar kita. Sayangnya, banyak orang melihat ini hanyalah konflik pacaran biasa. Tidak banyak yang mengerti betapa hal ini sangat merusak setiap individu yang terlibat di dalamnya. Saatnya kita membuka mata dan memikirkan kembali tentang hal ini.

Apa yang bisa kita lakukan?

 
http://www.fearzone.com/content/images/large/large-1489.jpg

source: http://kei.hitmansystem.com/2010/12/20/stockholm-syndrome-dalam-romansa/

Pilihan


Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal, 

Pertama :Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu,
Kedua: Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu: "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih". "Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak dan aku bertabah miskin.' Sang ibupun bertanya hal yang sama.

Jawab anak sulung: "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut". "Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup." "Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama".

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita .. pilihan ada di tangan anda. 


Kamis, 15 Desember 2011

Mendidik Anak Mandiri

Keberanian dan kemandirian bisa dibentuk sejak kecil. June Thompson, dalam bukunya Toddlecare, Pedoman Merawat Balita (edisi terjemahan Indonesia, terbitan Penerbit Erlangga), memberikan kiat berikut.
  1. Bangunlah kepercayaan diri si kecil sejak dini. Berikan banyak kasih sayang dan perhatian padanya. 
  2. Berikan dukungan positif kapan pun ia berhasil. Jangan pernah membuat si kecil merasa gagal karena ia tidak mampu melakukan sesuatu. Hal itu hanya akan menghalanginya untuk berusaha melakukannya lagi. 
  3. Dorong ia untuk terlibat berbagai macam aktivitas. Semakin banyak rangsangan dan kesempatan mengembangkan kemampuan barunya, besar kemungkinan si kecil menjadi lebih percaya diri dalam melakukan segala hal. 
  4. Dorong ia melakukan berbagai macam permainan, baik sendiri maupun bersama anak lain. 
  5. Ajak ia bersosialisasi, mengunjungi tempat-tempat umum, dan bertamu agar pengetahuan dan pengalamannya bertambah. 
  6. Biarkan ia sekali-sekali membuat keputusan sendiri. Misalnya memilih baju yang akan dipakainya. 
  7. Biarkan ia mengerjakan segala sesuatu sendiri walaupun pada awalnya ia membuat kesalahan. 
  8. Ketika bermain dengan si kecil, hindari bersikap dominan dan selalu memimpin. Bermainlah mengikuti gerakannya dan biarkan ia menjadi pemberi contoh gerakan. 
  9. Libatkan si kecil dalam pembicaraan orang dewasa. Namun, hindari berbicara hal yang tidak ia mengerti. 
  10. Sesekali kita perlu sengaja membuat kesalahan bodoh. Misalnya, menulis dengan pensil terbalik atau mengosongkan isi kaleng yang masih tertutup. Biarkan si kecil mengoreksi kesalahan tersebut. 
  11. Dorong ia mengungkapkan perasaan dan idenya. 
  12. Minta maaf bila kita bersikap tidak adil kepadanya. 
  13. Jika si kecil pemalu, doronglah untuk bergabung dengan kelompok kecil. Namun, ia jangan dipaksa. 
  14. Bersikaplah tertarik pada aktivitas si kecil dan jika perlu membantunya. Namun, hindari mengambil alih atau ikut campur. 
  15. Biarkan si kecil membantu mengerjakan pekerjaan rumah walaupun kenyataanya ia lebih banyak mengganggu pekerjaan kita. Meniru orang dewasa merupakan bagian penting dalam menumbuhkan kemandirian. 
author : Agus Surono dan disadur dari http://intisari-online.com/read/mendidik-anak-mandiri 

Rabu, 14 Desember 2011

Business Wisdom

Rahasia Sukses

"Apa yang harus saya lakukan untuk sukses?"
"Pilihan" adalah kuncinya. Bagaimana kita menentukan pilihan atas semua tindakan kita. 
11 hal ini adalah hal yang saya lakukan, dan yakini dapat membantu kita menuju sukses.

3 untuk waktu, bagaimana kita memanfaatkan 24x7 kita.
  1. Prioritas, memilih menyelesaikan hal yang terpenting dulu, tetap fokus pada pokok kunci permasalahan. Mendelegasikan atau melupakan yang tidak penting.
  2. Menciptakan kebiasaan yang menguntungkan dalam waktu luang; membaca buku saat di bandara dan hotel, menelpon klien saat di taxi, bbm pada klien akan produk terbaru saat menunggu dokter.
  3. Mengurangi hal2 yang tidak "sesuai dengan mimpi", mengurangi ngobrol ringan, tidak membaca koran kalau memang tidak ada manfaatnya, tidak nonton sinetron, dan jangan terlalu mudah menerima tamu tidak "berguna" yang menghabiskan waktu.

3 untuk kerja.
  1. Jadilah ahli disatu bidang, yang relevan dengan pekerjaan anda, menjadi lebih hebat dari orang lain, lebih ahli dari siapapun. Dan kabarkan kesemua orang bahwa anda ahli dalam hal itu.
  2. Selalu mencari peluang pada setiap kesempatan. Dalam perjalanan kehidupan, kita fokus pada pekerjaan tapi juga harus cukup jernih mengawasi sekeliling kita untuk mencari peluang baru.
  3. Kerja keras, kerja cerdas. Carilah pintasan paling mudah dengan hasil maksimal. Getting More by Doing Less, focus pada 80/20. Pilih tindakan yang paling "tepat guna" dalam sebuah pekerjaan. Pelajari dari orang lain, bertanya, berpikir, ambil tindakan paling efektip, yang "Low Cost High Impact."

3 untuk hubungan sosial.
  1. Miliki sebuah "social capital", harta untuk ber network dengan orang lain, entah berupa sebuah keahlian tertentu atau pengetahuan yang diinginkan orang lain. Belajarlah dan investasikan waktu anda untuk sebuah "network currency" yang diinginkan network anda.
  2. Selalu menghargai orang lain seolah2 mereka lebih penting dari kita, dan dengan tulus dan jujur memuji dan bersahabat dengan mereka.
  3. Selalu menanyakan dalam diri sendiri, apa yang dapat saya pelajari dari mereka, apa yang dapat kita kerjakan bersama, bagaimana kita dapat saling menunjang untuk maju bersama.

2 untuk kehidupan.
  1. Bekerja sebaik kita bisa. Push to the limit, paksakan untuk maksimal, baik secara kwalitas ataupun kwantitas. Untuk hal tertentu kita harus melakukan yang maksimal, tanpa kompromi. Untuk hal lain, dapat kita asal2an saja, pilihan adalah kunci.
  2. Carilah keberuntungan. Find your luck. Setiap peluang, setiap persahabatan, setiap perjalanan, memiliki "misteri rejeki" masing masing, yang akan membawa kita pada sukses dan kebahagiaan.

Sebenarnya pada akhirnya, tidak ada rahasia sukses. Sukses adalah sebuah hasil atas pilihan tindakan2 kita pada perjalanan kehidupan, yang telah memberikan nilai lebih pada "pelanggan" kita, kepada semua orang disekeliling kita.

*) sumber : tanadisantoso.com

Business Wisdom

Pekerjaan Paling Punya Kemungkinan Sukses
Oleh : Tanadi Santoso

Seorang teman bertanya: "Pekerjaan apa yang paling baik untuk ditekuni pada jaman ini supaya bisa sukses besar?" Pertanyaan mudah, yang jawabnya susah.

Nah, saya menjawab petanyaan teman itu dengan kalimat: "Pelajari hal2 yang sulit dilakukan, yang berbeda dengan orang lain, dan memberi nilai lebih atau sangat berguna bagi banyak orang."

Dalam pemikiran yang lebih dalam, memang ada 3 karakter pekerjaan masa depan yang punya kemungkinan sukses besar:
  1. Yang sulit dilakukan. Jaman ini adalah jaman mudah, semua orang mau yang mudah, mau yang instant, dapat dipelajari dengan cepat, tanpa peluh dan jernih payah. Nah, karena semua mau yang mudah, belajarlah hal2 yang sulit, yang hanya segelintir orang yang bisa, karena sulitnya. Semakin sulit semakin baik, tidak banyak kompetisi, dan susah ditiru orang lain.
  2. Yang beda dengan orang lain. Kemampuan kita semua hampir sama, jurusan laku dikampus terlalu banyak yang ahli. Pelajari hal yang aneh, unik, authentic, dan khas dengan diri anda. Jangan mau sekedar sama dengan enam ratus ribu orang lain.
  3. Yang memberi "value" bagi orang lain. Sekedar aneh dan sulit, tapi tidak punya manfaat, akan tidak berguna juga dalam persaingan usaha. Mengamati trend yang sedang ada, memantau hal2 yang banyak laku, melihat masa depan akan seperti apa, dan kita mempelajari hal2 yang memberi nilai tambah buat calon "pelanggan" kita.

Tapi sebenarnya apa, tentu sangat bergantung pada kemampuan tiap orang, bakat masing2, passion, kesempatan, dan trend yang berjalan, serta faktor2 lain yang sering tidak kelihatan saat ini.

*) sumber : tanadisantoso.com

Senin, 05 Desember 2011

Orang yang bahagia adalah orang yang bisa membuat bahagia orang lain
http://cooltext.com/Render-Image?RenderID=603390124